Patung Legenda Tengger yang terbuat dari fiberglass karya Budi S.

SUKAPURA – Masuk ke galeri seni ini tak dipunggut biaya sepeserpun. Pengunjung bisa dengan bebas datang, melihat, dan mengambil foto dari berbagai karya yang terpampang di Jawa Jawa Jawa. Karya yang tersediapun beragam. Ada foto, lukisan, seni perunggu, seni kriya, koleksi kamera, dan lainnya.

Untuk karya foto, mayoritas merupakan hasil jepretan Sigit Pramono. Seorang bankir kenamaan yang punya hobi fotografi. Setidaknya ada puluhan foto soal TNBTS yang terpajang di Jawa Jawa Jawa.

Sementara untuk karya lukis, kebanyakan merupakan karya Saepul Bahri. Pria lulusan Institut Seni Indonesia yang aktif menjadi juri lomba seni lukis dan mewarnai di Indonesia. Ada 6 lukisan yang ia pamerkan. Berjudul Jago, Kompetisi, Trans Blue, Ritual Sederhana, Solid dan Sesaji Bumi.

Ada pula karya seni yang terbuat dari besi, kawat dan FRP berjudul Kuda Lumping karya Taufan A P. Menggambarkan seorang manusia yang menaiki kuda lumping. Selain itu, Taufan juga memerkan karya seni berjudul Tari Gandrung. Dimana ada dua wanita yang terbuat dari campuran besi, kawat, resin dan aluminium menarikan Tari Gandrung. Setidaknya, Taufan memamerkan 5 karyanya di Jawa Jawa Jawa.

Sementara seniman Budi Santoso memerkan karya yang kebanyakan terbuat dari fiberglass. Salah satunya karya berjudul Selfie Yuuu…. Dimana seorang wanita cantik sedang berfoto selfie. Ada juga karya berjudul Legenda Tengger. Menggambarkan sosok Joko Seger dan Roro Anteng berdiri di atas kawah Bromo. Keduanya merupakan sosok urban legend suku Tengger.

Tak cukup sampai disitu, Jawa Jawa Jawa juga menyediakan satu ruangan khusus dimana terdapat puluhan jenis kamera milik Sigit Pramono. Ada yang kamera lawas, baru, bahkan dengan ukuran yang tak lazim.

Di dalam Jawa Jawa Jawa juga terdapat sebuah mini bar yang mampu memanjakan pengunjung. Suasana yang tenang dan hangat, ditambah secangkir kopi dapat membuat pengunjung terlena untuk berlama-lama di dalam galeri seni ini.

*Artikel ini tayang di Sriwijaya In-Flight Magazine edisi Oktober 2017

Oleh: Lizya Oktavia Kristanti