Hari pertama Indonesian Rider Expedition (IRE) di negara Balkan, menempuh perjalanan
sekitar 370 kilometer, dari Milan ke Pisa. Sepanjang perjalanan, sempat mampir ke restoran khusus para bikers.  Dekorasinya menarik: motor digantung di atas. Berikut bagian kedua catatan Heri Cahyono, yang juga pendiri Ongisnade Dirt Bike:

HARI pertama kami memulai ekspedisi, start dari hotel kami NH Hotel Linate di Milan. Cuaca pagi itu agak kurang bersahabat. Yakni hujan. Akibatnya keberangkatan kami tertunda hingga satu jam. Seharusnya jam 08.00 pagi waktu setempat.

Di hari pertama ekspedisi ini, kami merencanakan rute sejauh 370 kilometer. Semua rute itu mengarah ke luar kota, melewati kawasan pedesaan. Tapi, kami menyiapkan rute alternatif, jika deadline waktu berhenti terancam tak terkejar.

Untuk sebuah ekspedisi dengan jarak ratusan kilometer selama seperti ini, waktu jeda
untuk beristirahat di-deadline paling lambat jam 21.00. Artinya, jam 9 malam, harus berhenti beristirahat untuk menyiapkan rute keesokan harinya. Ini demi menjaga
kebugaran tubuh.

Tepat pukul 09.00, pagi itu kami pun berangkat. Sebelumnya, kami melakukan pemanasan
kecil, agar tubuh tidak kram. Setelah itu kami berdoa, lalu berangkat. Kami melaju meninggalkan Kota Milan, menyusuri jalanan kota. Tujuan kami selanjutnya menyusuri kawasan pedesaan Portofino di Italia tengah.

Kami menuju ke dataran tinggi Italia, di Trebia. Ini adalah sebuah pegunungan di Italia
tengah yang menjadi destinasi wisata. Kawasan ini berketinggian 1.000 meter di atas
permukaan laut, dengan suhu 15 derajat Celsius.

Di sepanjang perjalanan menuju ke kawasan itu, jalanan penuh dengan kelokan tajam, dan hanya cukup dibuat papasan dua kendaraan. Di kanan-kirinya berbukit, berjurang, dan bersungai yang indah di sepanjang perjalanan. Bagi seorang biker, medan seperti ini cukup menantang untuk memacu adrenalin. Jika di Indonesia kita bisa bebas memacu kendaraan, di Italia kita harus berhati-hati dan patuh pada limit speed (batas kecepatan) yang ditentukan.

Umumnya, batas kecepatan yang diperbolehkan ditulis, dan terpampang di pinggir
jalan. Untuk mengawasi setiap pengendara, ada CCTV atau kamera pengintai di pinggir
jalan yang siap merekam kecepatan kita dalam perjalanan.

Di negara-negara barat, seperti di Amerika dan negara maju lainnya, CCTV di pinggiran jalan sudah jamak dijumpai. Ini sebagai pengganti polisi lalu lintas.

Jika melalui kamera pengintai itu dijumpai ada pengendara yang melanggar, maka secara otomatis akan dipotret. Yang dipotret adalah nomor polisi kendaraan.

Dan dari nomor kendaraan itu bisa diketahui alamat dan identitas pelanggar. Selanjutnya, surat tilang akan dikirim ke alamat pelanggar.

Selama kurang lebih 1,5 jam menyusuri kawasan Trebia, kami melanjutkan perjalananuntuk mengisi perut yang mulai keroncongan. Kami menuju ke kawasan Pegunungan Torriglia. Kawasan ini merupakan sebuah lembah di kawasan pedesaan yang indah. Di tempat ini kami menjumpai sebuah restoran yang cukup unik. Restoran ini memasang sebuah motor sejenis trail, digantung di atas, sebagai dekorasi luarnya.

Rupanya, ini untuk menandai, bahwa restoran tersebut menjadi tempat peristirahatan bagi
para bikers. Di restoran ini kami disambut dengan sangat ramah dan bersahabat. Setelah makan siang selesai, dia mengizinkan dan memfasilitasi kami menunaikan salat Duhur di
ruang pribadinya.

Oh iya, karena sebagian besar rider yang berangkat adalah muslim, maka di setiap restoran kami selalu menjelaskan kepada pemilik dan pelayan restoran bahwa kita adalah muslim sehingga pilihan makanan pun disesuaikan. Setelah makan siang, kami
melanjutkan perjalanan, melewati Taman Nasional Ente Parco Naturalle Regionale dell’antola dan Parco Nazionale delle Cinque Terre.

Setelah dari dua taman nasional itu, selanjutnya kami tiba di Kota Genoa dan menyusuri
garis pantai Genoa yang rapi dan indah. Sampai di sini road captain (pemimpin ekspedisi) memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan plan B, untuk memotong jarak dan
waktu. Yaitu dengan melewati jalan tol super strada, alias berbayar.

Di Italia ada dua jenis tol. Yakni tol tak berbayar yang disebut auto strada. Umumnya
kecepatan maksimum yang diizinkan lewat tol ini adalah 110 km per jam. Satunya
lagi, jenis tol berbayar, disebut super strada dengan kecepatan maksimum 130 km per jam.

Sebagai info, sebagian besar negara di dunia mengizinkan motor memasuki tol dengan
syarat kapasitas mesin harus di atas 249 cc. Artinya 250 cc ke atas bebas menggunakan
jalan tol. Harga tol di Italia bervariatif, bergantung jarak tempuhnya. Untuk motor di
kisaran 4 euro–5 euro. Selain pembayaran menggunakan kartu tol, khusus di Italia masih
menyediakan gerbang pembayaran cash. Meskipun cash, semuanya tanpa petugas.

Kita harus ambil tiket, dan membayar langsung ke mesin toll yang tersedia. Begitu melintasi tol, dan setelah keluar dari tol, kami sampai di Kota Pisa Italia pada
pukul 19.30. Hari pun mulai temaram, karena di Italia saat musim panas seperti sekarang
ini matahari akan tenggelam di kisaran pukul 20.00 waktu setempat. (bersambung)

Source link