Pangsit Mie Ngaglik, Bertahan hingga Setengah Abad

Pangsit Mie Ngaglik yang berada di Jalan Arif Margono 41-A, Kota Malang, ini umurnya sudah mencapai lebih dari setengah abad. Namun, untuk urusan rasa, mi ini tetap tidak berubah. Meskipun, kini sudah generasi kedua yang mengelolanya. Lantas, apa yang khas dari mi tersebut?

MALANG KOTA – Warung ini sangatlah sederhana. Buktinya, hanya ada meja panjang dan kursi kayu di dalam warung berukuran 6×5 meter persegi itu. Di depan warung, ada gerobak. Bahkan, tidak sulit mencari warung ini karena berada di pinggir jalan raya, tepatnya Jalan Arif Margono.

Dari pertigaan Pos Polisi Kasin, lokasinya sekitar 100 meter ke arah selatan. Atau sekitar 20 meter sebelum Jembatan Kasin. Jika Anda dari arah Kauman atau Alun-Alun Merdeka, Kota Malang, warung ini ada di kiri jalan.

Warung tersebut berdiri sejak 1967 atau 50 tahun silam. Hanya ada dua menu di warung ini, yakni pangsit mi pakai pentol yang dibanderol dengan harga Rp 11 ribu atau pangsit mi tanpa pentol seharga Rp 7 ribu. Pelayanan yang ramah dan cepat juga memanjakan pengunjung di tempat ini.

Penyajian Pangsit Mie Ngaglik terbilang berbeda dengan pangsit pada umumnya. Kuah dan kulit pangsit rebus atau siomay terpisah dengan mi yang sudah diberi sayur, taburan daging ayam, bawang goreng, dan kerupuk pangsit. Di setiap meja sudah tersedia cabai hijau rebus utuh, saus tomat, kecap manis, merica, dan kerupuk.

Uniknya, ukuran kerupuk pangsit di sini terbilang besar. Lebih besar daripada ukuran telapak tangan manusia dewasa.



Ini sebagai ciri khas atau pembeda dengan pangsit mi lainnya. Soal rasa, tak perlu diragukan lagi. Nendang. Mi yang lembut, kuah hangat yang gurih, dicampur aneka pelengkap, membuat Pangsit Mie Ngaglik layak dicoba. Perpaduan aneka bumbu sangat terasa sehingga menimbulkan rasa yang mantap di lidah. Pas dan tidak berlebihan.

Kepada koran ini, Sujarwo, pemilik Pangsit Mie Ngaglik, mengaku baru saja pindah ke tempat ini sejak setahun lalu. Sebelumnya, Pangsit Mie Ngaglik ada di Jalan S. Supriadi. Saat ini, lokasinya tak jauh dari tempat lama. ”Kontraknya habis. Jadi, kami harus cari kontrakan baru. Untung mendapatkan yang dekat dengan tempat lama,” kata Sujarwo, beberapa hari lalu.

Sujarwo merupakan putra pertama dari Darmo dan Sariati. Keduanya merupakan pelopor Pangsit Mie Ngaglik. ”Bapak meninggal pada 1985, sedamkan ibu tahun 1990-an. Jadi, saya meneruskan usaha mereka,” ucap pria yang menjadi warga Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.

Namun Sujarwo menjamin, rasa, penyajian, dan tampilan, tidak berubah meksi dirinya adalah generasi kedua. ”Resep tidak pernah saya ubah. Masih sama seperti saat awal berdiri,” ujar suami dari Sri Lestari tersebut.

Selain itu, Sujarwo mengaku, semua bahan makanan merupakan olahannya sendiri bersama sang istri. ”Pangsit, pentol, kerupuk, semua bikin sendiri. Dan saya jamin 100 persen halal,” ucap pria kelahiran Malang 5 Oktober 1958 itu.

Bahkan, Sujarwo mengklaim, usaha kulinernya itu sebagai pangsit mi pertama yang berdiri di Ngaglik. ”Dulu pertama buka pangsit mie disini itu bapak saya. Tapi sekarang sudah banyak yang buka,” pungkasnya.

Pewarta: Lizya Oktavia
Penyunting: Irham Thoriq
Foto: Darmono