POTENSI WISATA: Turis asing menaiki tangga Candi Pari di Porong yang berdiri sejak 1371 atau saat era keemasan Majapahit. Sekitar 50 meter di selatan Candi Pari, berdiri Candi Sumur.
(Allex Qomarullah/Jawa Pos/JawaPos.com)

Rasanya, perjalanan ini tak lengkap bila tidak mengunjungi candi dan situs yang bertebaran di sepanjang sungai. Ada yang kondisinya terawat baik, didatangi turis lokal dan asing. Ada pula yang tampak sepi.

DARATAN seluas 13 hektare itu membuat laju perahu karet kami terhenti. Di depan kami, aliran Kali Porong terpecah. Alirannya membentuk dua percabangan yang mengitari pulau atau ’’pulo’’ dalam pengucapan lidah warga setempat. Meskipun terpisah, aliran kali kembali menyatu di ujung pulau. Keberadaan daratan tersebut bisa dilihat jelas dari atas jembatan Porong. Jaraknya cukup dekat, hanya sekitar 1 kilometer.

Sayangnya, kondisi aliran sebelah kiri tertutup tanah. Air yang mengalir kecil sekali sehingga tidak memungkinkan dilewati perahu. Kondisi jalur kanan sama. Penyebabnya, konstruksi kaki-kaki proyek tol Porong–Gempol sedang digarap. Lokasinya tidak jauh dari jembatan Arteri Porong.

Proyek jalan tol sepanjang 6,4 kilometer tersebut akan menggantikan tol Porong–Gempol lama di sisi timur yang putus akibat luapan lumpur Lapindo sejak 2006.

Kesimpulannya, pada Jumat pagi (15/9) itu kami tidak mungkin melanjutkan perjalanan dengan perahu, setidaknya sampai 2–3 kilometer ke depan. Perjalanan lumayan jauh. Sebab, setelah melewati jembatan Porong, aliran kali juga bertemu dengan tanggul batu.

TETAP TERJAGA: Anak-anak berendam di kolam pemandian Candi Belahan, Desa Wonosonyo, Gempol, Pasuruan. Boleh berendam, tapi dilarang pakai sabun dan sampo.
(Allex Qomarullah/Jawa Pos/JawaPos.com)

Dalam kondisi kemarau seperti sekarang, perahu tak bisa lewat. Pucuk-pucuk tanggul batu tersebut mendongak ke permukaan. Ah, kami kecewa berat.

Akhirnya, kami memutuskan kembali ke Desa Bulang, Prambon. Malam itu kami menginap di balai desanya. Siapa tahu ada warga atau perangkat desa di sana yang bisa membantu mencarikan mobil untuk mengangkut perahu tersebut.

Rencananya, perjalanan dengan perahu kami lanjutkan dari Desa Kedungcangkring, Jabon. Persisnya, beberapa ratus meter selepas jembatan tol Porong–Gempol lama. Setelah tanya sana-sini, akhirnya kami berhasil mendapatkan carteran mobil SUV dobel kabin. Perahu pun langsung kami angkat beramai-ramai.

***

Dalam perjalanan kali ini, kami kembali mendapat kawan baru. Namanya, Anton Novenanto. Dia sengaja kami ajak karena memiliki pengetahuan yang cukup mendalam mengenai situs-situs purbakala di tepian aliran Kali Porong. Antara lain, Candi Pari di Porong.

Ada juga Candi Gunung Gangsir di Desa Gunung Gangsir; Candi Belahan di Desa Wonosonyo, Gempol; serta kompleks Situs Raos Pecinan di Dusun Raos, Desa Carat, Gempol. Tiga spot terakhir tersebut berada di Pasuruan.

Situs Raos Pecinan hanya berjarak 100 meter dari bibir Kali Porong. Yakni, ditandai dengan dua patung yang berukuran cukup besar. Sayangnya, kondisinya tidak utuh lagi. Berdasar papan kusam yang kami baca, kompleks situs Raos Pecinan dibangun pada era Majapahit.

’’Saya belum tahu pasti fungsi situs itu, masih terus menyelidiki. Yang jelas, ada hubungannya dengan Kali Porong,’’ kata Nino, sapaan akrab Anton Novenanto. Nino adalah lulusan S-1 Sosiologi UGM 2003. Namun, untuk master dan doktor, dia ’’melompat’’ ke bidang antropologi.

Dia lulus S-2 dari Universitas Leiden, Belanda, pada 2009 dan S-3 Universitas Heidelberg, Jerman, pada 2016. Sekarang dia bergabung dengan salah satu LSM lingkungan hidup.

Dalam perjalanan menuju Candi Belahan, Nino bercerita. Menurut dia, candi dan situs tersebut memiliki makna penting. Bangsa Jawa kuno, ucap Nino, selalu membuat penanda untuk mengingat sesuatu. Bila banyak candi dan situs berdiri di sekitar Kali Porong, itu berarti ada peristiwa-peristiwa penting di sekitar Kali Porong. ’’Situs dan candi yang sudah terdata sementara berjumlah belasan,’’ tuturnya.

Semua Ini demi Dua Putra Airlanga

Begitu tiba di Candi Belahan, Nino langsung menceritakan peristiwa penting di balik nama candi tersebut. ’’Ya karena ada sesuatu yang dibelah,’’ jelasnya. Nino menuturkan, Candi Belahan menjadi semacam ’’sertifikat’’ atas lahirnya Kali Porong. Itu merupakan suatu penanda yang dibangun oleh Airlangga, pendiri Kerajaan Kahuripan yang kemudian berpindah ke Kediri (1009–1042).

Nino menjelaskan, pada penghujung kekuasaannya, dua putra Airlangga, yaitu Sri Samarawijaya dan Mapanji Garasakan, berselisih. Airlangga lantas memutuskan membagi kekuasaan wilayah kerajaannya. Setelah berdiskusi panjang dengan penasihatnya, yakni Mpu Bharada, Airlangga disarankan memecah wilayah kerajaan dengan sebuah garis batas yang jelas. Bagaimana caranya?

’’Ya dibelah dengan aliran sungai,’’ ungkap Nino. Airlangga memerintah prajuritnya untuk membongkar salah satu sisi bendungan yang semula dibangun. Letaknya berada di sekitar Kecamatan Tarik saat ini. Air pun mengalir deras dan membentuk aliran sungai baru yang membelah wilayah kerajaannya. ’’Dibelah atau diparo dalam bahasa Jawa,’’ ujar Nino.

Lama-kelamaan, kata paro pun berubah menjadi Porong. ’’Itu sebabnya, nama sungai ini adalah Porong, bukan sungai Pasuruan, Sidoarjo, atau Brantas,’’ jelas Nino. Versi babad, dikisahkan bahwa Mpu Bharada terbang sambil mengucurkan air dari kendi. Saat itulah, terbentuk sodetan yang menjadi Kali Porong.

Setelah wilayah Kahuripan terpecah, Sri Samarawijaya mendapat jatah Kerajaan Kediri yang berpusat di Kota Daha Baru. Sementara itu, Mapanji mendapatkan bagian Kerajaan Jenggala di Kahuripan (Sidoarjo). Selepas membelah dan mewariskan kerajaan kepada anak-anaknya, Airlangga moksa di sekitar Candi Belahan.

Peradaban di sekitar Kali Porong kemudian berkembang pesat. Aliran sungai tersebut bukan saja menjadi sumber kehidupan, tetapi juga salah satu pusat peradaban ujung timur Jawa. Terutama dalam bidang pertanian. Itulah yang melatarbelakangi munculnya Candi Pari di Porong dan Candi Gunung Gangsir.

Candi Pari dibangun pada masa Kerajaan Majapahit, dipersembahkan sebagai bentuk terima kasih kepada Joko Pandelegan. Dia banyak membantu Majapahit menjalani masa-masa paceklik. Saat itu sebagian padi didatangkan dari persawahan di wilayah Porong yang subur. Majapahit juga membangun Candi Gunung Gangsir sebagai ucapan terima kasih atas hasil pertanian di wilayah tersebut.

Dari Candi Gunung Gangsir itu, kita bisa mengetahui bahwa aliran Kali Porong sebenarnya sudah berubah, tidak seperti yang sekarang kita ketahui. Dulu jalurnya berkelok-kelok, melewati Mojokerto, Sidoarjo, dan Pasuruan.

Karena ada revolusi agraria oleh pemerintah Hinda Belanda pada 1920-an, jalur sungai berubah. Tidak lagi melewati Gunung Gangsir, tetapi mengarah lurus di sekitaran Jabon, melewati dermaga Tlocor, lalu bermuara di Selat Madura. Untuk membuktikannya, Nino mengajak kami menuju saksi bisu salah satu proyek pengairan besar di masa kolonial dulu. Itu adalah jembatan Kalimati. ’’Mari kita ke sana,’’ ajak Nino.


(*/c20/pri)

Source link