Selama 9 hari, mulai 30 Agustus lalu, kontributor Radar Malang Heri Cahyono mengikuti Indonesian Rider Expedition (IRE). Ekspedisi sejauh 3.000 kilometer ini melintasi
lima negara Eropa di kawasan Balkan: Italia, Kroasia, Montenegro, Bosnia Herzegovina, dan Slovenia.

Berikut catatannya yang dia tulis secara khusus untuk Radar Malang ini:

IRE adalah sebuah komunitas rider yang secara rutin mengadakan tour, baik di dalam negeri maupun ke luar negeri. Pada ekspedisi kali ini diikuti 8 rider dari Indonesia, dan seorang captain road dari Italia.

Kami merencanakan tour ini selama 9 hari, dengan target jarak yang ditempuh sejauh 3.000 kilometer. Berangkat pada 30 Agustus lalu, kami tiba di Milan, Italia pada keesokan harinya setelah menempuh penerbangan selama 13 jam via Abu Dhabi.

Mengapa kami memilih Kota Milan sebagai starting point? Alasan utamanya, karena persewaan motor di sana lebih lengkap dibandingkan dengan empat negara lainnya yang akan kami tuju. Jujur saja, selain Italia, empat negara yang akan kami tuju itu belum semuanya kami datangi. Montenegro, Kroasia, Bosnia Herzegovina, dan Slovenia. Kroasia kami tahunya hanya soal tim sepak bolanya saja.

Ketika menyewa motor di Milan, tetek bengek administrasinya termasuk ribet dan berbeda dibandingkan dengan negara lain seperti pengalaman saya selama ini.

Di negara lain, ketika akan menyewa motor, cukup menunjukkan paspor dan SIM internasional. Tapi di Milan, wajib menunjukkan SIM lokal kita. SIM dari negara kita. Tanpa SIM lokal Indonesia, kita tak bisa menyewa motor di Milan.

Syarat lainnya, harus menyerahkan uang jaminan kerusakan motor. Dan ini harus dibayarkan di depan. Jumlahnya 2.000 Euro (sekitar Rp 34 juta dengan kurs Rp 17 ribu per 1 Euro).

Ini berbeda dengan di negara lain, di mana kita baru mengganti kerusakan setelah benar-benar ada kerusakan. Tanpa harus membayar di depan (deposit).

Di luar negeri, umumnya berlaku dua sistem sewa motor. Pertama, berdasarkan hitungan
hari atau kilometer. Kedua, berdasarkan hari dengan kilometer yang tidak dibatasi. Ini pun
juga berlaku di Milan.

Kami memilih opsi kedua, karena untuk berjaga-jaga, kalau-kalau kita tersesat, atau tidak sesuai dengan rute yang direncanakan. Kami berdelapan, enam orang mengendarai BMW GS 1200 termasuk saya. Seorang teman mengendarai BMW F700 GS, seorang teman
mengendarai BMW F800 GS, dan seorang teman lainnya menggunakan Ducati Scrambler.

Semua motor itu dilengkapi dengan box di belakang (penier) yang dapat diisi dengan
berbagai macam keperluan logistik serta obatobatan selama perjalanan. Ketika melakukan touring ke luar negeri, memang harus punya persiapan yang matang. Ini sangat berbeda dengan touring di Indonesia.

Di Indonesia, jika lapar di tengah jalan, begitu mudahnya kita mencari warung, depot atau restoran di pinggir jalan. Di Indonesia ada orang jual bahan bakar eceran.

Tapi ini semua tidak berlaku di luar negeri. Makanya, ketika akan touring ke luar negeri, persiapan harus benar-benar matang, mulai dari persiapan bahan bakar, logistik, serta obat-obatan, harus dipersiapkan secara mandiri.

Kita juga harus tahu di sepanjang rute yang akan dilalui, mana saja tempat-tempat penjualan bahan bakar, termasuk penginapan sebagai tempat istirahat. Untuk mempersiapkan ekspedisi ini, kami merencanakan sejak enam bulan sebelumnya.

Milan adalah salah satu kota di Eropa yang paling mahal sewa motornya. Sebagai perbandingan, sewa motor BMW GS 1200 di Belanda, seperti pernah saya ke sana, harganya Rp 15 juta untuk 9 hari. Sedangkan di Milan hampir 2 kali lipatnya. Yakni Rp 29 juta untuk sewa dengan jumlah hari yang sama.

Setelah semua persyaratan administrasi dipenuhi, kami harus meneken kontrak motor dengan terlebih dahulu melakukan cek fisik kendaraan. Kendaraan yang akan kami sewa
difoto dan divideo di setiap sudutnya. Selain harus meneken dokumen kontrak, kami harus
meneken kontrak untuk asuransi internasional.

Di Eropa, asuransi ini adalah harga mati. Satu lagi syarat yang harus dipenuhi ketika riding ke luar negeri. Yakni harus dilengkapi dengan kemampuan navigasi, minimal mempunyai
aplikasi online seperti Google Map, aplikasi offline seperti Sygic serta aplikasi team seperti life 360 untuk mengetahui posisi masing-masing rider. Saya sendiri membawa tambahan GPS satellitetype outdoor.

Di negara berkembang, terutama Indonesia, memiliki aturan lalu lintas yang cukup berbeda dengan Eropa. Di Indonesia, kita berkendara di jalur kiri. Sedangkan di Eropa
di sebelah kanan. (bersambung)

Source link